Tenaga kerja bangunan gedung adalah sekelompok orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan pembangunan sebuah gedung atau permukiman, untuk mengerjakan sebagian dari rencana pembangunan sesuai dengan klasifikasi keterampilan dan keahlian masing-masing.
Tenaga kerja yang terlibat langsung maksudnya adalah orang-orang yang beraktivitas secara full time pada proyek pembangunan. Sementara tenaga kerja yang tidak terlibat langsung adalah orang yang bekerja secara part time, temporer serta tidak standby di proyek setiap hari.

Ragam tenaga kerja bangunan gedung dan klasifikasi
Merujuk pada Permen PUPR Nomor 28 Tahun 2016 kualifikasi tenaga kerja yang terlibat dalam sebuah proyek bangunan gedung dan permukiman sudah sangat jelas. Yakni terdiri dari 5 kategori antara lain:
1. Pekerja
Sesuai namanya pekerja atau sering disebut dengan tenaga kerja kasar. Adalah yang melaksanakan pekerjaan secara berkelompok atau perorangan atas perintah dari seorang tukang.
Dalam istilah daerah, pekerja disebut juga dengan tukang laden. Hal tersebut sesuai dengan kapabilitas mereka yang bekerja untuk meladeni (melayani) tukang. Misalnya menyiapkan bahan dan alat kerja, membersihkan tempat kerja dan sebagainya.
2. Tukang
Yaitu sekelompok tenaga kerja bangunan gedung terampil yang terlibat langsung dalam proses pembangunan sejak awal atau hanya pada beberapa waktu sesuai dengan tugas dan tanggungjawab yang diberikan.
Tenaga kerja inti pada proyek bangunan gedung terbagi menjadi 10 macam, yaitu:
a. Tukang gali
Adalah orang yang melaksanakan segala pekerjaan gali tanah untuk keperluan berbagai macam struktur pondasi, instalasi pipa maupun drainase bangunan.
Oleh sebab itu, tukang gali selalu identik dengan pekerjaan tanah, Karena segala aktivitas yang dilaksanakan bersentuhan langsung dengan tanah.
b. Tukang batu/tembok
Adalah orang-orang yang terampil dalam pemasangan pondasi batu belah, pemasangan dinding bata ringan atau bata merah, serta seluruh pekerjaan-pekerjaan yang menggunakan material batu dan semen sebagai bahan bangunan. Misalnya cor lantai, cor kolom/balok beton dan sebagainya.
Jadi, walau sebutannya hanya tukang batu atau tukang tembok. Sebenarnya lingkup pekerjaan yang harus dilaksanakan cukup banyak. Diantaranya lagi adalah plester dan aci dinding, pasang keramik untuk lantai maupun dinding bangunan.
Oleh sebab itu diantara sekian banyak ragam tenaga kerja bangunan gedung, dalam hal jumlah tukang batu/tembok lah yang paling banyak dibutuhkan untuk mengerjakan sebuah proyek bangunan.
c. Tukang kayu
Antara lain membuat dan membongkar bekisting setelah selesai digunakan, mengerjakan pintu/jendela yang terbuat dari material kayu, memasang partisi kayu, serta memasang rangka plafon atau atap kayu.
Singkatnya, tukang kayu mengerjakan segala jenis pekerjaan yang menggunakan material kayu sebagai bahan utama. Baik yang bersifat sebagai bagian dari konstruksi bangunan, maupun yang bersifat sementara.
d. Tukang besi
Adalah tenaga kerja yang melaksanakan seluruh jenis pekerjaan pembesian.
e. Tukang cat/pelitur
Adalah tenaga kerja yang melaksanakan segala jenis pekerjaan cat bangunan. Baik cat tembok, cat kayu, maupun cat besi atau cat minyak.
f. Tukang pipa/operator pompa
Antara lain bertugas untuk instalasi pipa air bersih, pipa air kotor serta pipa air limbah/hujan. Termasuk melaksanakan pemasangan dan uji coba mesin pompa air. Untuk memastikan apakah instalasi pipa telah terpasang dengan benar atau belum.
g. Tukang penganyam bronjong
Sesuai namanya, tukang penganyam bronjong bertugas untuk mengayam kawat bronjong pada bangunan. Dan, tidak jarang tenaga kerja ini juga terlibat membantu tukang besi, Misalnya ketika memasang besi tulangan lantai yang terbuat dari besi beton atau wiremesh.
Tukang besi dan tukang penganyam bronjong sering bekerja sama karena pada dasarnya keterampilan yang dimiliki sangat mirip. Pula alat-alat kerja yang digunakan sama persis. Misalnya gunting/gergaji besi dan alat pengikat besi.
h. Tukang tebas
Bertugas untuk menebang pohon serta tumbuhan-tumbuhan yang berada pada lahan proyek. Selanjutnya dibersihkan agar tidak menghalang pelaksanaan pembangunan gedung.
i. Tukang las/konstruksi
Adalah sekelompok tenaga kerja yang melaksanakan pengelasan dan pemasangan konstruksi besi/baja pada proyek bangunan.
Dalam hal ini walau disebut sebagai tukang las, bukan berarti hanya melaksanakan pemasangan konstruksi besi dengan menggunakan alat las. Melainkan termasuk dengan alat sambung baut mur, serta alat-alat pengikat konstruksi lainnya. Misalnya fisher, dinabolt, chemical angkur maupun angkur baja.
j. Tukang atap
Adalah tenaga kerja yang melaksanakan pemasangan segala jenis atap bangunan.

3. Tenaga kerja spesialisasi
Tenaga kerja bangunan gedung ketegori spesiliasi terdiri dari:
– Kepala tukang
Adalah perseorangan yang mengepalai sejumlah tukang dan pekerja bangunan. Bertanggungjawab untuk mengarahkan dan mengawasi pekerjaan yang dilaksanakan oleh kelompok tenaga kerja tersebut.
– Mandor
Adalah perseorangan yang mengepalai sejumlah kepala tukang.
– Juru ukur
Atau sering disebut surveyor. Bertugas untuk melakukan pengukuran bangunan secara horizontal maupun vertikal. Dengan demikian, baik leveling maupun bentangan dan ukuran-ukuran ruang dalam gedung sesuai dengan gambar desain bangunan.
– Pembantu juru ukur
Adalah sejumlah tenaga kerja yang bertugas untuk membantu juru ukur. Kelompok ini tidak tergolong sebagai pekerja karena lingkup pekerjaan yang dilaksanakan cukup unik. Yakni dengan menggunakan alat kerja modern. Seperti alat ukur Theodolit, Total Station (TS) dan sejenisnya.
– Mekanik alat berat
Adalah tenaga kerja yang melaksanakan perawaran dan perbaikan pada alat-alat berat dan mesin-mesin yang digunakan pada proyek bangunan gedung. Misal mesin jack hammer, Concrete pump, dan sebagainya.
– Operator alat berat
Adalah orang yang mahir serta memiliki izin (lisensi) untuk mengoperasikan sebuah alat berat.
– Pembantu operator
Adalah orang yang membatu tugas operator alat berat sehari-hari.
– Supir truk
Adalah orang yang mahir serta memiliki izin (lisensi) untuk mengoperasikan sebuah truk.
– Kenek truk
Bertugas sebagai pembantu supir.
– Juru gambar (drafter)
Adalah tenaga kerja yang bertugas untuk membuat gambar kerja dan detail konstruksi bangunan gedung. Dengan arahan/pengawasan dari seorang tenaga ahli bangunan atau lebih. Agar setiap ukuran dan dimensi material lebih mudah dibaca dan diterapkan oleh tukang.
– Operator printer/plotter
Bertugas mencetak gambar kerja bangunan menggunakan mesin printer. Gambar kerja tersebut dicetak dengan alasan sebagai berikut:
- Untuk memperoleh persetujuan dari ahli, pengawas atau pemilik bangunan. atau,
- Untuk diberikan kepada mandor atau kepala tukang. Agar dijadikan sebagai acuan untuk melaksanakan pekerjaan pembangunan.
4. Tenaga ahli
Penting diketahui tenaga kerja bangunan gedung kategori ahli sangat bermacam-macam. Selain dapat ditinjau dari jenjang keahlian personal. Juga dapat ditinjau dari spesialisasi keahlian pada bidang konstruksi bangunan.
Keahlian yang dibutuhkan pada pekerjaan konstruksi bangunan setidaknya ada 3 macam. Yaitu masing-masing bergerak pada bidang:
- Desain bangunan
- Struktur bangunan
- Instalasi MEP (Mekanikal, Elektrikal dan Plumbing).
Sementara itu jenjang keahlian personal untuk masing-masing bidang di atas, terbagi lagi menjadi 4 tingkatan, yaitu:
- Ahli pratama (pengalaman s/d 3 tahun)
- Ahli muda (pengalaman 3 – 5 tahun)
- Ahli madya (pengalaman 5 – 10 tahun)
- Ahli utama (pengalaman ˃10 tahun)
Praktik di lapangan, misalnya untuk membangun rumah tinggal 2 lantai. Setidaknya membutuhkan 3 orang tenaga kerja ahli madya. Yaitu bertugas untuk membuat desain bangunan, dalam hal ini yang sering disebut arsitek. Kemudian, bertugas sebagai ahli struktur bangunan. Atau yang sering disebut Insyiniur. Serta seorang ahli MEP. Atau sering disebut Instruktur MEP.
Akan tetapi jika gedung yang akan dibangun semakin kompleks. Misalnya gedung bertingkat tinggi. Berarti tenaga ahli yang dibutuhkan semakin banyak. Tentu tidak cukup ditangani oleh ahli madya, melainkan harus melibatkan tenaga ahli utama. Sehingga jumlah ahli yang terlibat mencapai 6 orang.
5. Narasumber
Narasumber termasuk tenaga kerja bangunan gedung karena terbukti memberikan sumbangan pemikiran untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan. Hal ini dapat terlihat ketika berlangsung peninjauan proyek dari beberapa pejabat berwenang.
Atau, karena unsur sengaja dari kontraktor dan/atau pemilik bangunan mendatangkan praktisi untuk melakukan penilaian kinerja dan kualitas bangunan. Maka dengan kehadiran Narasumber akan diketahui pula sejauh mana prestasi tenaga kerja untuk mempertahankan kualitas.
Jadi tenaga kerja golongan Narasumber ada 2 macam, yakni:
A. Pejabat berwenang/eselon
Dari nama ini dapat diketahui bahwa kategori proyek bangunan yang dilaksanakan pada umumnya adalah bangunan milik pemerintah. Baik pemerintah pusat maupun daerah.
Proyek pemerintah pusat sering disebut proyek BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Sedangkan proyek pemerintah daerah (Kabupaten/Kota maupun Provinsi) sering disebut proyek BUMD. BUMD singkatan dari Badan Usaha Milik daerah.
Nah dari kedua jenis proyek pemerintah ini, diketahui pula bahwa pejabat yang berwenang sebagai Narasumber pada proyek bangunan gedung adalah sesuai dengan keberadaan sang pejabat. Apakah sebagai pejabat daerah, atau sebagai pejabat pemerintahan pusat.
B. Praktisi
Praktisi yang dihadirkan sebagai Narasumber sebuah proyek pada umumnya ada 2 macam, yakni berasal dari: 1]. Profesional (swasta), dan 2]. Kalangan akademik (kampus).
Kalangan profesional maksudnya adalah para ahli yang bergerak dibidang perencanaan dan pengawasan proyek bangunan. Sementara kalangan akademik adalah ahli-ahli bangunan yang condong pada penelitian dan study banding.
Jadi, baik pejabat berwenang, ahli bangunan profesional maupun ahli bangunan dari kalangan akademik sangat efektif untuk mendukung kelancaran proses pembangunan sebuah gedung. Oleh sebab itu tergolong tenaga kerja bangunan gedung.
Terakhir, seluruhnya ada 27 macam tenaga kerja yang terlibat pada proses pembangunan sebuah bangunan gedung dan permukiman.
Tenaga kerja yang standby di lapangan (terlibat secara langsung) adalah kategori: 1]. Pekerja, 2]. Tukang, dan 3]. Tenaga spesialis. Sementara yang tidak standby adalah tenaga ahli dan narasumber.
[…] mobilisasi yang sulit tersebut maka proses pengiriman alat, material maupun tenaga kerja tidak berjalan lancar. Dan efek domino daripada itu adalah tingginya biaya pekerjaan serta proses […]