Dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan artinya segala kejadian yang muncul pada saat proses pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan, baik yang sengaja maupun tidak sengaja oleh pelaku-pelaku konstruksi yang berada di proyek maupun yang tidak.

Disadari atau tidak setiap proyek konstruksi bangunan punya dinamika sendiri-sendiri. Bukan hanya proyek yang skala besar. Seperti gedung bertingkat, atau yang memiliki massa bangunan banyak. Pada salah satu jenis konstruksi bangunan juga sering kok terjadi. Misal pekerjaan baja.
Walau hanya dalam lingkup yang kecil, dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan pun tak kalah penting untuk segera diatasi. Supaya tidak berdampak pada lingkup pekerjaan yang lain. Dan pada akhirnya mengakibatkan kerugian besar bagi pekerja (kontraktor), bahkan pada owner.
Ragam kendala pelaksanaan proyek dan solusi yang terbaik
Sebagaimana kita ada beberapa faktor penentu sukses tidaknya sebuah proyek bangunan, yaitu: 1]. SDM (Sumber Daya Manusia), 2]. Manajemen, 3]. Metode kerja, 4]. Dana, dan 5]. Peralatan.
Mari kita bahas satu per satu untuk mengetahui sejauh mana 5 faktor ini menimbulkan dinamika di proyek. Sekaligus untuk mengetahui apa solusi yang tepat.
I. Dinamika tenaga kerja
Dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan yang disebabkan oleh tenaga kerja mudah diketahui. Yaitu sejak 2-3 minggu para pekerja mulai melaksanakan satu pekerjaan. Indikasi-indikasinya seperti berikut:
- Target mingguan tidak tercapai
- Kualitas pekerjaan buruk
- Tidak efektif menggunakan material/alat
- Tidak serius bekerja (banyak istirahat).
Solusinya adalah:
- Melakukan pengawasan lebih ketat. Misalnya 1 orang mengawasi 5 pekerja.
- Tidak memberi keleluasaan kepada pekerja untuk mengambil keputusan. Melainkan harus persetujuan pengawas.
- Menerapkan sistem kerja borong.
Pada kondisi tertentu harus diakui bahwa merekrut tenaga kerja bangunan yang dilakukan secara asal. Sering menjadi penyebab terjadinya banyak kendala. Tanpa diketahui latar belakang dan kompetensi tukang langsung disuruh bekerja.
Untuk itu, jikalau dianggap sudah terlanjur. Dan si-tukang tidak dapat diarahkan agat bekerja dengan benar. Solusi yang terbaik adalah mengganti.
II. Dinamika manajerial
Level yang lebih tinggi. Misalnya pelaksana bangunan hingga site manager, dan project manager. Pun ada kemungkinan menimbulkan dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan.
Sesuai namanya tingkat ini lebih condong pada aktivitas yang berkaitan dengan kepemimpinan, administrasi dan keuangan. Oleh sebab itu dinamika yang sering terjadi adalah:
a. Koordinasi di lapangan kurang bagus
Tahap ini pihak yang bertanggungjawab umumnya adalah pelaksana bangunan. Indikasinya adalah masing-masing mandor melaksanakan pekerjaan sesuai kekhendak sendiri. Akhirnya progres pekerjaan tidak tercapai, atau timpang antara yang satu dengan yang lain.
Kondisi tersebut jika dibiarkan berkepanjangan maka proyek bangunan pasti tidak akan selesai tepat waktu. Dan bahkan tidak sesuai dengan kualitas yang diinginkan.
Seharusnya masing-masing mandor koordinasi tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan dibawah komando seorang pelaksana bangunan. Sehingga secara simultan dan serentak proses pembangunan bisa berjalan dengan baik.
b. Sistem penggajian tidak jelas
Tidak jelas misalnya terjadi ketidaksamaan biaya borongan antara mandor yang satu dengan yang lain. Upah pekerja harian, atau gaji lembur yang tidak sesuai dengan pasaran.
Disamping itu penggajian tidak jelas juga mencakup pemberian gaji/upah yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Alias tidak tepat waktu.
Hal ini semua mengakibatkan pelaksanaan pekerjaan bangunan tidak lancar, dan tidak sesuai target. Bahkan tidak jarang sampai terjadi demo oleh para pekerja.
c. Laporan keuangan tidak transparan
Sama dengan poin nomor 2. Personil yang bertanggungjawab pada poin ketiga ini adalah pimpinan proyek. Dalam hal ini diwalikili oleh manager keuangan. Dalam istilah asing disebut dengan SAM (Site Accounting Manager).
Laporan keuangan yanh tidak transparan secara lambat laun akan memgakibatkan kekuangan proyek macet. Sebab aliran dana tidak jelas, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Indikasinya sebagjan seperti yang dijelaskan pada poin 2. Yakni kendala penggajian. Selain itu indikasi berikutnya adalah suplay material makin lama semakin tidak lancar.
Paralel juga dengan pembayaran kepada para vendor, atau suplier-suplier material. Sebab jika para vendor mendapat bayaran tepat waktu, maka material/bahan bangunan pasti akan lancar.
d. Hubungan dengan masyarakat buruk
Diakui atau tidak dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan dengan masyarakat sekitar juga ada. Misalnya karena polusi suara, polusi udara, atau oleh hal-hal yang berkaitan dengan keamanan lingkungan.
Jika tidak segera diselesaikan bukan suatu yang mustahil kalau proyek bangunan sampai di stop oleh masyarakat. Jadi sedapat mungkin penyelesaiannya dilalukan di awal. Tepatnya sebelum proses pembangunan mulai dilaksanakan.
Solusi atas berbagai macam dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan diatas. Oleh pimpinan perusahaan jasa konstruksi (kontraktor) adalah sebagai berikut:
- Audit keuangan seluruhnya
- Merubah sistem pelaksanaan pekerjaan
- Melakukan rapat koordinasi sesering mungkin
- Memberi sanksi ringan hingga sanksi keras
- Mengganti personil yang tidak kompeten dan/atau yang melanggar disiplin
III. Dinamika metode kerja
Penyusunan metode secara global dilakukan oleh pimpinan proyek. Dalam hal ini diwakili oleh SOM (Site Operatioanal Manager) dan SEM (Site Engineering Manager). Mengacu pada time schedulle yang telah ditetapkan dalam kontrak.
Selanjutnya metode kerja tersebut dijabarkan kembali oleh sub kontraktor sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing, pun mengacu pada time schedulle yang ditetapkan oleh main contractor.
Terkait dengan dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan, sesungguhnya faktor utama adalah time schedulle yang tidak tepat, dan tidak tercapai.
Tidak tepat artinya menetapkan satu durasi waktu untuk melaksanakan pekerjaan bangunan, yang sebenarnya belum siap untuk dilaksanakan. Akibat daripada itu time schedulle tidak tercapai.
1. Upaya pencegahan
Sebelum terlanjur terjadi sebaiknya penetapan time schedulle jangan dilakukan sepihak. Misalnya oleh keinginan pemilik bangunan saja. Karena ingin bangunannya cepat-cepat selesai. Tetapi melibatakan kontraktor pelaksana pembangunan.
Dengan demikian sang kontraktor pun menguraikan time schedulle kepada masing-masing subkon atau mandor tidak asal-asalan. Melainkan telah didasari oleh pertimbangan teknik dan non teknik.
2. Solusi
Bilamana metode kerja dan time schedulle tidak sesuai harapan. Yang mengakibatkan perlambatan pekerjaan. Tentu harus ditinjau sesegera mungkin. Caranya bagaimana?.
- Melakukan pengajuan perpanjangan waktu pelaksanaan pekerjaan
- Menyusun ulang metode kerja, khususnya pekerjaan-pekerjaan yang terlambat.
IV. Dinamika keuangan
Keuangan dalam hal ini maksudnya lalu lintas transaksi untuk keperluan langsung maupun tidak langsung pada perlaksanaan sebuah proyek bangunan, yang terjadi sejak perancangan desain, proses lelang, konstruksi hingga serah terima bangunan.
Dari penjelasan ini diketahui bahwa dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan pun bisa di picu oleh ketidaksiapan pemilik bangunan dalam hal biaya. Untuk itu pembiayaan proyek bangunan harus direncanakan dengan matang, dan disiapkan sejak awal. Misal sumbernya dari mana, dan kapan jadwal dicairkan.
Akan tetapi pula sering terjadi keuangan dari pihak pemilik bangunan telah lancar. Namun pengelolaannya oleh kontraktor yang tidak profesional. Akibatnya terjadi seperti yang dijelaskan pada poin 2. Khususnya sub poin 2 dan 3.
V. Dinamika alat
Problem alat ada 2, yakni kurang lengkap dan tidak memadai. Kurang lengkap berarti alat kerja yang dibutuhkan tidak terpenuhi sesuai dengan jumlah maupun spesifikasi.
Sedangkan tidak memadai artinya alat kerja yang tersedia tidak mampu mendukung proses pelaksanaan pekerjaan dengan maksimal, tetapi terpaksa tetap digunakan. Mengapa?. Penyebabnya juga ada 2 yaitu:
- Alat yang dibutuhkan tidak tersedia
- Dana untuk membeli alat tidak ada.
Walaupun alat tergolong faktor terakhir yang menentukan sukses tidaknya proyek bangunan, tetapi hal ini tidak jarang membuat:
- Kualitas bangunan menjadi jelek
- Penyelesaian pekerjaan menjadi telat
- Hubungan dengan pemilik bangunan menjadi renggang, dan
- Proyek bangunan jadi mandek.
Solusi atas dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan yang disebabkan oleh peralatan hanya 1, yaitu menyiapkan segala jenis peralatan sesuai kualitas dan kuantitas.
Dinamika tentang ketersediaan material
Persoalan ketersediaan material dan bahan bangunan sebenarnya termasuk kendala utama yang mengakibatkan melaksanakan proyek konstruksi tidak lancar. Sebab material dan bahan bangunan adalah objek dalam pekerjaan bangunan.
Bilamana hal tersebut terjadi, biasanya yang dilakukan ada 2 pilihan yaitu:
- Segera mengganti desain konstruksi dengan material yang berbeda,
- Menunggu kedatangan material yang diharapkan.
Dari kedua pilihan tersebut kira-kita mana yang terbaik?. Hemat Penulis karena sama-sama memiliki konsekuensi. Satu, kekuatan konstruksi dipertanyakan. Dan satu lagi, mengakibatkan pekerjaan tidak mengalami kemajuan. Maka harus diputuskan bersama dengan pemilik bangunan.
Belajar dari kejadian seperti ini, pada saat perancangan konstruksi harus memilih material baja yang benar-benar ready stock. Kategori ready stock tidak dilihat hanya dari jenis material. Tapi termasuk ukuran-ukuran yang tersedia.
Maksudnya bagaimana?. Karena tidak semua ukuran material baja profil tersedia di pasaran. Contoh H Beam 400, WF 500, WF 588, UNP 240, besi pipa 8″ atau besi holow 80×100. Maka ukuran-ukuran sebaiknya jangan digunakan lagi.
Demikian ulasan mengenai dinamika pelaksanaan pekerjaan bangunan. Jikalau Anda butuh konsultan perancangan, dan pengawasan bangunan silahlan hubungi kami melalui nomor yang tertera dalam situs ini.