4 jenis beban yang terjadi pada bangunan harus di antisipasi sejak perancangan bangunan, supaya kokoh.

4 Jenis Beban Bangunan Yang Harus Di Antisipasi Sejak Awal

Andaikata bangunan bisa bicara, sebenanya ia akan mengeluh karena beban yang dipikul sangat berat. Termasuk kita-kita yang tinggal di sana. Jadi, seberat apapun beban loe sekarang ini. Tidak ada apa-apanya di banding beban bangunan.

4 jenis beban yang terjadi pada bangunan harus di antisipasi sejak perancangan bangunan, supaya kokoh.

Hubungannya dengan kita apa?. Sebagai engineer, sebagaimana telah digeluti oleh bajasatu.com selama ini. Sukses merancang bangunan. Tapi tidak lebay. Atau, tidak mengeluh atas beberapa tantangan yang di hadapi. Tapi, harus kuat. Bak sebuah struktur yang mampu memikul segala macam beban.

Pengertian dan jenis-jenis beban

Beban bangunan artinya suatu gaya yang berasal dari luar, namun bekerja pada struktur bangunan, secara bersama-sama atau sendiri-sendiri. Dalam waktu yang tidak terbatas, dan mengakibatkan kekuatan struktur menjadi berkurang.

Karena struktur bangunan sangat banyak, dan beragam tempat pemasangan. Maka, besar beban yang bekerja pada masing-masing struktur tersebut adalah berbeda-beda. Namun demikian, dapat diketahui dengan mudah, dan pasti. Melalui sebuah analisa perhitungan kekuatan bangunan.

Adapun ketentuan atas suatu tindakan yang akan dilakukan, terkait dengan perhitungan beban bangunan, telah diatur dalam Peraturan Pembebanan SNI 03-1729-2002. Pasal 6.2.2. Berdasarkan ketentuan tersebut pula. Beban bangunan ditetapkan menjadi 4 macam.

1. Beban mati

Adalah bobot dari semua konstruksi bangunan, yang bersifat tetap untuk selama masa berdirinya bangunan. Termasuk unsur-unsur tambahan yang melekat, dan menjadi satu kesatuan dengan bangunan. Misalnya penutup atap, langit-langit, serta perlengkapan instalasi pipa, listrik, dan AC.

Beban mati pada bangunan terdiri 2 macam, yaitu:

  1. Berat sendiri material struktur bangunan. Misalnya: Material baja = 7.850 kg/m3. Beton = 2.200 kg/m3 Beton bertulang = 2.400 kg/m3.
  2. Berat komponen konstruksi bangunan. Antara lain, dinding bata merah. Pasang 1/3 batu = 250 kg/m2. Atap genteng = 50 kg/m2. Dan, sebagainya.

Diantara 4 jenis beban bangunan, yang berasal dari berat sediri bangunan (beban mati) adalah yang paling besar. Bahkan, berlaku secara baku. Atau, tidak berubah. Kecuali, renovasi bangunan.

2. Beban hidup

Atau, sering disebut beban berguna. Adalah segala beban yang timbul akibat penggunaan bangunan. Khusunya yang berada di atas bangunan. Seperti penempatan perabot, aktivitas manusia, kendaraan yang melintas, atau barang-barang lain.

Berkaitan dengan fungsi bangunan, sekaligus proses perancangan struktur. Untuk memikul beban yang bekerja pada suatu bangunan. Maka, batas maksimal beban hidup sangat perlu.

Pembatasan tersebut dilakukan berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung, 1983. Misalnya:

  • Lantai rumah sederhana = 125 kg/m2
  • Lantai sekolah/kampus, kantor dan gedung-gedung sejenis = 250 kg/m2
  • Bangunan olah raga = 400 kg/m2
  • Gedung parkir = 800 kg/m2

3. Beban angin

Adalah beban yang bekerja pada struktur bangunan akibat tekanan-tekanan dari gerak angin. Baik terhadap atap, dinding, maupun ruangan-ruangan yang dilewati oleh angin.

Dibanding dengan beban yang pertama, dan kedua. Beban angin relatif lebih kecil. Namun demikian, jangan anggap remeh. Karena dampaknya justru lebih besar. Bisa tiba sewaktu-waktu. Serta dengan kekuatan yang tidak terduga. Oleh sebab itu, beban angin dibedakan menjadi 2 faktor, yakni:

Letak bangunan

Misalnya daerah pesisir pantai. Selain tekanan tiup angin yang tinggi, pula sering barengi dengan curah hujan. Hal ini akan membuat beban bangunan semakin bertambah. Bahkan, sulit diprediksi. Karena sampai saat ini, informasi yang dapat kita peroleh berkiatan dengan 2 hal ini adalah dari BMKG.

Selebihnya untuk mengetahui berapa besar beban angin tidak bisa di estimasi dengan pasti. Maka dari itu, diambil rata-rata. Untuk bangunan tepi laut. Sampai dengan jarak 5 km. Besarnya tekanan tiup angina adalah 40 kg/m’.

Tinggi gedung

Faktor kedua yang mengakibatkan beban angin makin besar adalah ketinggian bangunan. Makin tinggi, otomatis tekanan angin semakin besar. Terhadap seluruh struktur bangunan, dan atap.

Namun dalam kasus ini, tekanan tiup angin terbesar adalah pada dinding bangunan. Bukan konstruksi atap. Sebab, dinding memiliki bidang yang cukup luas, serta dari 4 penjuru mata angin. Oleh sebab itu, dari manapun angin bertiup, pasti menerpa dinding.

4. Gempa

Adalah beban bangunan yang berasal dari pergerakan tanah akibat gempa bumi. Awalnya, bekerja pada struktur bangunan paling bawah. Namun, adanya gaya geser yang berasal dari pergerakan tanah. Kemudian secara ekivalen mempengaruhi struktur bangunan secara keseluruhan.

Faktor reaksi gempa umumnya ditentukan berdasarkan lokasi bangunan, jenis tanah di bawahnya, serta berat total bangunan. Termasuk beban berguna yang telah ditentukan untuk bangunan tersebut.

Kapan beban-beban banguan dibutuhkan?

Pertanyaan sederhana, tapi tidak semua orang bisa menjawab. Menurut Anda kapan?. Hayo!. Sepengetahuan kami; “Sejak sebuah bangunan mulai direncanakan, di rancang, di bangun, hingga di operasikan”. Alias adalah selama-lamanya.

Pada saat perencanaan, faktor yang harus Anda ketahui adalah daerah yang akan dibangun. Rawan gempa, atau tidak. Sementara itu, saat perancangan bangunan. Anda membutuhkan data-data tentang jenis tanah. Untuk menentukan struktur pondasi, maupun jenis material, yang akan digunakan.

Begitu juga pada saat proses konstruksi, dan operasi bangunan. Beban bangunan tetap perlu diketahui. Minimal untuk menaruh barang-barang. Agar jangan sembarangan.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Butuh bantuan untuk Aplikator Material Baja & Perhitungan Struktur Bangunan? Ayo Chat dengan kami!