Nats khotbah minggu ini terambil dari Kitab Mazmur 67 ayat 1 – 8, dengan tema: Nyanyian syukur karena segala berkat Allah. Dan, sub tema: Arahkanlah seluruh suku dan bangsa hidup dalam sukacita yang berasal daripada Tuhan. Bertepatan pula dengan ajaran baru sekolah, penerimaan mahasiswa baru, serta semester awal bagi mahasiswa yang lama.

Mengapa langsung saya kaitkan dengan situasi yang di alami muda-mudi gereja saat ini?. Karena pemuda adalah salah satu pilar penopang program, sekaligus masa depan gereja. Gereja yang mana? Gereja secara individual, maupun komunal. 2 hal ini (gereja individual dan kumunal) cukup berbeda. Dan, menarik untuk di bahas. Namun, tidak pada konteks kali ini. Semoga lain waktu bisa saya sampaikan untuk teman-teman. Melalui halaman yang berbeda.
Latar belakang kitab Mazmur 67
Sama halnya dengan nats-nats PL yang lain, latar belakang khotbah minggu ini adalah pasca panen besar yang dialami oleh bangsa Israel. Oleh sebab itu, Pemazmur mengingatkan bangsa itu. Bahwa segala yang mereka peroleh adalah tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Sehingga wajib bersukacita di dalam Tuhan. Bukan sukacita karena mengandalkan, atau atas kehendak sendiri.
Selain itu, bertepatan pula dengan perintah Allah kepada Abraham. Agar berangkat dari tanah Kelahirannya. Menuju satu tempat yang telah di tentukan oleh Tuhan. Untuk satu misi. Yakni memenuhi kerajaan bumi. Oke, bahasa sederhana disini saya pakai bersaksi. Menjadi saksi ke segala suku dan bangsa.
Sampai disini kita peroleh satu kesimpulan. Si-pemazmur yang dimaksud dalam nats khotbah minggu ini bukan raja Daud. Sebagaimana kita ketahui, umumnya Kitab Mazmur lebih banyak di kaitkan dengan Daud. Padahal tidak. Mazmur 67 ini ternyata ditulis jauh sebelum raja Daud berkuasa.
Intisari khotbah bagi generasi muda secara khusus
Dunia global saat ini menghendaki, agar kita mau berbuat sebagaimana yang telah mereka desain. Bahkan, kalau memungkinkan. Agar kita menjadi ketergantungan kepada apa yang mereka rencanakan. Sekalipun hal tersebut bukan untuk hal-hal yang bermanfaat. Misalnya main game online. Beli smartphone yang mahal, dan sebagainya. Bukankah hal-hal tersebut justru bertolak belakang dengan Firman Tuhan?. Karena membuat orang tua kewalahan menyediakan sejumlah dana untuk beli paket data (kuota), dan smartphone.

Sukacita dan nyanyian syukur tentunya dibarengi dengan perbuatan nyata setiap hari. Jangan mentang-mentang dibilang berkat Tuhan ada sepanjang masa. Lalu, Anda berbuat semena-mena. Dengan dalih, besok-besok kan berkat Tuhan tetap ada. Kasih setia Tuhan kan sepanjang zaman. Hati-hati sobat muda. Iya, jikalau Tuhan masih memberikan kesempatan. Kalau tidak, Anda akan menyesal sampai ke liang kubur.
Ada 2 intisari khotbah minggu ini yang tepat untuk muda-mudi gereja sekarang, yaitu:
A. Salah satu bentuk ucapan syukur yang paling dalam kepada Tuhan adalah melalui Nyanyian
Ketika saya mengajari seseorang untuk membuat suatu desain. Katakanlah bikin gambar pemandangan. Tangan tidak boleh kaku/keras. Tapi, harus lembut. Supaya Anda dapat menjiwai apa yang Anda gambar. Dan, objek yang Anda gambar pasti bagus.
Demikian halnya dengan bidang ilmu pengetahuan seni yang lain. Yaitu seni tari, seni musik, seni lukis. Bahkan bernyanyi. Kuncinya ada pada tangan dan jemari. Tanpa anggota tubuh yang satu ini, semua pekerjaan tersebut bakal sulit dilakukan. Namun, bukan berarti tidak bisa. Sebab dalam Tuhan tidak ada yang mustahil.
Nyanyian syukur akan lebih tulus Anda sampaikan jikalau dibarengi dengan gerak tangan. Demikian juga pemain musik. Tentu harus dengan jemari yang lembut. Agar nada yang dihasilkan pas dengan lagu yang di nyanyikan.
Oleh sebab itu, bersyukurlah Anda yang memiliki anggota tubuh lengkap. Terlebih, mampu menggunakan untuk kebaikan dan kemuliaan Tuhan. Kalau tidak, berarti Anda menyia-nyiakan berkat Tuhan. Bagaimana bisa menjadi generasi gereja yang baik?.
B. Muda-mudi Kristen harus bisa seperti pohon kelapa
Hubungannya dengan pendelegasian Abraham oleh Tuhan. Walau pada saat itu tidak muda lagi. Alias sudah berkeluarga. Tapi, dari segala aspek. Tentu ia lah yang putra terbaik bangsa Israel saat itu. Sehingga di pilih oleh Tuhan. Bahkan, tidak salah kita menyebut masa depan bangsa itu diserahkan pada dia. Dan, hal itu terbukti garis keturunan bangsa Israel berikutnya ternyata dari Abraham. Lebih luas lagi, Abraham juga terkenal dengan sebutan Bapak Orang Percaya. Luar biasa sekali bukan?.

Selain menjadi generasi yang baik, muda-mudi kristen harus tangguh seperti sebuah pohon kelapa. Ada 5 hal yang bisa kita ambil pelajaran dari sebuah pohon kelapa. Sekaligus sebagai perenungan dalam khotbah minggu ini.
i. Memiliki akar serabut namun kuat
Persekutuan orang kristen dapat diumpamakan seperti akar serabut. Walau tidak dalam, tapi karena banyak dan menyatu. Maka sebuah pohon kelapa mampu tumbuh dimana pun. Baik di tepi pantai, di pengunungan, maupun di daerah tandus.
Demikian pula dengan umat Kristen. Bisa menyelesaikan persoalan dengan baik, dan dalam sukacita. Kalau bersama-sama. Minimal dengan teman dekat. Untuk curhat. Dengan majelis gereja, atau orang tua. Minta nasehat. Share pengalaman, dan lain sebagainya. Pokonya tanpa persekutuan Iman seseorang tidak tumbuh, dan tidak bisa memperlihatkan bahwa ia telah diberkati.
ii. Batang tunggal tapi kokoh
Walau hanya terdiri dari 1 batang. Pohon kelapa mampu bertahan dari terpaan angin, maupun hujan deras. Bahkan mampu meliuk-liuk, seakan-akan menikmati fenomena alam yang tengah terjadi. Sehingga, jarang ditemui pohon kelapa tumbang, atau patah karena angin.
Generasi muda saat ini harusnya demikian pula. Mampu menghadapi perkembangan zaman, dan memanfaatkannya untuk kebaikan,.dan kemuliaan Tuhan. Bukan terbawa arus, dan lupa identitas (jati diri), sebagai orang Kristen. Jadi, batang pohon kelapa disini boleh kita assosiasikan sebagai keteguhan iman. Kuat dan tidak tergoyahkan.
iii. Daun pohon memiliki ciri khas sehingga mudah di kenal
Algoritma Google lebih senang menyelidiki orang yang memiliki ciri khas. Agar bisa di publikasi di mesin pencarian (browsing internet) dengan mudah. Ciri khas tersebut bisa merupakan keahlian/bakat khusus, maupun identitas yang melekat pada diri seseorang. Misalnya Nama, Marga, Agama, dan Titel. Atau, latar belakang pendidikan.
Oleh sebab itu, muda-mudi Batak secara khusus pantas bersukacita, atas karunia yang diberikan Tuhan melalui leluhur kita. Agar tetap menggunakan Marga. Yang berarti sejak kita lahir dan Baptis, kita sudah memiliki 1 ciri khas. Yaitu Marga yang melekat dengan nama. Maka dari itu, tidak heran kalau orang Batak mudah terkenal. Walau sebagai orang asing pada suatu tempat. Layaknya Yesus semasa hidupNya di dunia. Menjadi terkenal, dan teladan banyak orang.
Kaitannya dengan daun kelapa. Daun kelapa dapat di analogikan sebagai sebuah kesaksian. Daun kelapa berwarna (hijau) lebih cerah dibanding pohon yang sejenis. Misalnya Enau. Artinya, khotbah minggu ini dengan tegas mengatakan, muda-mudi Kristen harus menunjukkan identitas yang asli di depan umum. Kalau tidak, mustahil Anda bisa melakukan kesaksian, bahwa Anda seorang anak Tuhan yang baik.
iv. Pohon kelapa berbuah sepanjang waktu
Buah kelapa dapat diumpamakan sebagai bentuk pelayanan. Bagi orang Kristen yang telah menerima berkat dari Tuhan, sepatutnya juga menjadi berkat bagi orang lain. Tidak melalui materi, melalui pikiran, waktu dan tenaga juga bisa kok. Oleh sebab itu, tidak ada alasan menunda pekerjaan pelayanan.
Sama halnya dengan pohon kelapa. Tidak mengenal musim kemarau, hujan atau tengah pandemi. Pohon kelapa terus berbuah. Oleh sebab itu, kapan pun dan dimana pun pohon tersebut tumbuh, orang bisa menikmati hasilnya. Demikian halnya dengan muda-mudi Kristen. Dimana pun, dan kapan pun harus mampu memberi dampak yang baik bagi orang lain.
v. Tetap berguna walau sudah tumbang
Manfaat bagi manusia setelah pohon kelapa ada 2. Yaitu batang pohon dijadikan kayu. Atau, sering disebut Glugu. Digunakan sebagai bahan struktur bangunan. Kedua, menjadi kompos. Disamping itu, tak jarang “Kidu” yang terdapat dalam pohon kelapa.dijadikan santapan. Khususnya bagi masyarakat Batak, Sumetera Utara.
Singkatnya, baik selama masih tumbuh maupun sudah tumbang. Pohon kelapa tetap bermanfaat bagi masyarakat. Oleh sebab itu, jadilah seperti sebuah pohon kelapa. Yang memiliki iman yang kokoh, melayani, bersaksi, dan bersekutu untuk memuji dan memuliakan Tuhan.
Kesaksian penulis atas penyertaan Tuhan
Biodata : Anak pertama dari 7 orang bersaudara. Terdiri dari 6 laki-laki, 1 perempuan.
Pekerjaan utama : Tahun 1996 – sekarang bekerja di kontraktor baja
Pekerjaan sampingan :
• Konsultan perencanaan desain bangunan
• Mengelola 2 buah website (Blogger/Endorse)
Kesaksian saya pada khotbah minggu ini. Tuhan selalu memberkati dan menyertai saya selama ini, diantaranya ketika:
- Tidak jadi terlibat dalam kerusuhan 1998
- Dapat melalui krisis moneter (1999 – 2000), dan pindah kerja ke perusahaan yang sejenis
- Menyetir dari Semarang ke Medan selama 3 hari. Tahun 2007.
- Kuliah sambil kerja tahun 2011-2016
- Inisiasi pembangunan (desain) GKPS di kampung. Di resmikan tahun 2021.
Tugas pelayanan di GKPS Semarang:
- Terpilih jadi Syamas sewaktu masih umur 23 tahun.
- Menjadi pembimbing Namaposo GKPS 2x
- Ketua Pantia Pembangunan Tahun 2005 s/d 2020
- Anggota Majelis tahbisan sejak Tahun 2021.
- Sekretaris Jemaat GKPS Semarang sejak Tahun 2020 s/d sekarang
- Sekretaris GKPS Resort Yogyakarta sejak Tahun 2020 s/d sekarang
Penutup
Berkat Tuhan yang terbaru adalah mengabulkan doa yang saya sampaikan 10 tahun yang lalu. Tepatnya, ketika saya tugas kerja (proyek) di Kintamani, Bali Tahun 2013. Keinginan saya waktu itu adalah bisa berbuat hal yang sama di Danau Toba. Bulan lalu, hal itu terwujud. Puji Tuhan.
Saat ini saya, melalui perusahaan tempat saya bekerja tengah mengerjakan 2 proyek bangunan sekaligus di Samosir. Yaitu Penataan Kawasan Pantai Pangururan, dan Menara Pandang Tele, Sumatera Utara. Oleh sebab itu, beberapa bulan ke depan saya akan bolak-balik ke Danau Toba.
Semoga melalui kesaksian dalam khotbah minggu ini, muda-mudi gereja semakin dekat pada Tuhan. Melakukan tugas dan panggilan sebagai generasi penerus dengan baik. Agar Nama Tuhan semakin mulia, dan kita semua tetap dalam sukacita dan dalam perlindunganNya. Amin.
Penulis sekaligus Pendiri website arsitekta.com: St.Riahman Siallagan, S.Ars,.IAI